Mata dan Hati


MATA DAN HATI
Oleh A Yamani Syamsuddin

Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang
yang
membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak. Bahkan, Rasul
menyebutkan
kebaikan itu bagaikan sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah SWT tak
memandang
apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu
tak
berbobot, seperti debu yang beterbangan.

Rasulullah menyatakan kondisi seperti itu karena mereka adalah kelompok
manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang
lain,
tetapi tatkala dalam keadaan sendiri dan tak ada manusia yang lain yang
melihatnya ia melanggar larangan-larangan Allah SWT (HR Ibnu Majah).

Mereka itu adalah orang-orang yang riya. Mereka berbuat kebaikan karena
dilihat oleh orang lain, bukan ikhlas karena Allah SWT.

Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya
dipicu oleh pandangan mata. Karena itu, hendaknya mata selalu dibawa
melihat hal-hal yang baik.

Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka
pemiliknya
berada di tepi jurang bahaya, meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh
ke
dalam jurang. Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam
kitab Ihya Ulumuddin.

Mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut.
Yang
pertama, mata memiliki kenikmatan pandangan. Sedangkan yang kedua,
memiliki
kenikmatan pencapaian. Keduanya sama penting, dan harus saling bekerja
sama.

”Dalam dunia nafsu keduanya adalah suatu yang mesra. Jika terpuruk
dalam
kesulitan maka masing-masing akan saling mencela dan mencederai,” kata
Ibnu Qayyim.

Kesendirian, kesepian, kala tak ada orang yang melihat perbuatan salah,
adalah ujian yang akan membuktikan kualitas iman. Di sinilah peran
mengendalikan mata dan kecondongan hati. Dalam suasana yang tak
diketahui
oleh orang lain, akan terlihat apakah seseorang itu imannya betul-betul
tulus atau tidak.

Inilah yang digambarkan oleh Rasulullah ketika dia diminta
menggambarkan
apa itu ihsan, “Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau
melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya yakinilah bahwa Ia
melihatmu.”

2002, millis DT…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s