Fenomena Membuang Makanan. Renungkanlah!!!


Image

Beberapa waktu lalu, pada saat konfrensi tinggi ke dua di negara bagian Penang, membawa saya ke aristokrat hotel bintang 5 bergaya di jantung kota terbesar kedua di Malaysia, Georgetown.

 

Hotel ini didirikan pada abad kesembilan belas selama masa kejayaan pemerintahan kolonial Inggris di Malaysia, dan sejak kelahirannya telah mempertahankan reputasinya sebagai tujuan besar orang-orang kelas tinggi.

 

Hotel ini berdiri tepat di pinggir laut, menawan dan elegan. Karena usianya yang tua, hotel ini menjadi saksi dua kali perang dunia, invasi Jepang, turunnya Kerajaan Inggris, dan kelahiran Malaysia pada tahun 1957.

 

Saat saya memasuki lobinya yang mewah pada hari Jumat pagi, saya tidak banyak komentar tapi merasa terkesan dengan desain gaya Inggris-nya dan lampu-lampu lilin yang tergantung. Saya dengan sabar menunggu pembicaraan dan diskusi tengah masakan prasmanan lezat yang tersaji yang akan kami santap untuk makan siang.

 

Benar, seperti yang telah diberitahukan kepada saya sebelum acara di hotel, makan siang prasmanan ini mewah dengan berbagai macam masakan yang bisa kita bayangkan disajikan di sebuah hotel.

 

Untuk sesaat saya terdiam dalam kebingungan sebelum makan, tidak tahu apa yang harus dimakan dan di mana untuk memulai. Terlalu banyak pilihan, mungkin tidak selalu baik semuanya, saya diam-diam berkata pada diriku sendiri saat saya mengisi piring dengan ‘char kuey teow’, hidangan lokal yang sangat populer, dan mulai makan perlahan di bawah angin yang menenangkan di selat Penang.

 

Setelah sesi terakhir hari terakhir konfrensi kami, ada sajian untuk perpisahan. Beraneka ragam daging ayang yang disajikan dalam sandwich, kue-kue yang eksotis dan minuman panas juga disajikan saat itu. Sandwich yang tertata apik seperti piramida  pada beberapa piring kaca raksasa. Lebih dari setengah dari peserta telah bergegas pulang saat itu, untuk menghindari kemacetan lalu lintas sore.

 

Yang tersisa, termasuk saya, berjuang untuk makan karena ada begitu banyak makanan yang tersisa. Saya mendekati seorang pekerja yang berdiri di dekatnya, menanyakan apa yang akan terjadi pada sandwich dan kue jika mereka tidak termakan.

 

Saat begitu cemas dan terkejut saat dia menjawab acuh tak acuh bahwa makanan-makanan itu akan dibuang ke tempat sampah. Saya langsung bertanya, “Apakah Anda yakin? Tidak bisakah Anda dan teman Anda membawa pulang makanan-makanan itu? Ada begitu banyak yang tersisa!” Dia memberikan senyum penyesalan dan menggeleng, menjelaskan bahwa ini adalah kebijakan hotel.

 

Saya menatap masakan yang dihiasi itu dengan tak percaya. Berapa banyak uang yang telah dihabiskan untuk mempersiapkan hidangan ini dan apakah adil untuk membuang makanan mahal dengan cara seperti itu? Bagaimana dengan jutaan orang di luar sana yang berjuang untuk menyiapkan makanan di meja dan orang lain yang benar-benar kelaparan?

 

Jika satu hotel membuang makanan yang masih bisa dimakan sebanyak ini, berapa banyak makanan yang terbuang oleh semua hotel di dunia? Saya takut untuk mencari tahu.

 

Harta yang terbuang

 

Sekitar sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia terbuang, atau hilang, setiap tahun pada skala global. Ini setara dengan 1,3 miliar ton makanan. Negara-negara industri dan berkembang membuang jumlah makanan yang hampir sama setiap tahun, 670 juta dan 630 juta ton masing-masing.

 

Sementara di masa lalu, pembuangan makanan terjadi di tingkat konsumen, kemudian dikatakan bahwa pembuangan melalui rantai pemrosesan makanan, karena infrastruktur yang lemah dan kurangnya teknologi yang tepat. Tapi ini masih tidak berarti bahwa pembuangan makanan yang tidak terjadi di tingkat konsumen di negara berkembang.

 

Pengamatan yang lebih dekat akan membuat kita cemas pada jumlah makanan yang terbuang oleh manusia, yang secara bersamaan mengeluh bahwa makanan tidak cukup bagi penduduk dunia yang semakin meningkat.

 

Makanan yang terbuang oleh semua negara-negara kaya, kira-kira sama dengan jumlah makanan yang diproduksi oleh seluruh sub-Sahara Afrika! Rata-rata konsumen di negara maju dilaporkan membuang sepertiga sampai setengah dari bahan makanan yang dibeli.

 

Bayangkan, ini berarti untuk setiap 3 tas belanjaan makanan dibeli di toko makanan lokal, akan berakhir di tempat sampah!

 

Pembuangan Makanan Dimana-mana

 

Pemborosan makanan diburuk dengan tingkat kemakmuran masyarakat. Orang-orang Amerika membuang rata-rata sekitar 209-254 pon makanan setiap tahun. Sayangnya pada saat yang sama, 17 juta rumah tangga di Amerika dianggap ‘rawan pangan’ di tahun 2010. Ssementara 46 juta orang Amerika, satu dari tujuh orang, bergantung pada jatah makanan.

 

Singapura membuang hingga hampir 600.000 ton makanan per tahun sementara orang-orang Jepang dan Australia membuang seperempat dari semua volume makanan dan masing-masing makanan itu bernilai 6 miliar dolar.

 

Ini akan lebih menarik, namun menyedihkan untuk mengetahui bahwa nilai makanan  yang disia-siakan oleh orang Australia benar-benar dapat memberi makan seluruh negeri itu selama tiga minggu, 5% dari sisa makanan orang Amerika cukup untuk memberi makan 4 juta orang selama sehari, sisa makanan orang Prancis  dapat memenuhi seluruh Kongo dan sisa makanan orang Italia dapat memberi makan Ethopia yang kekurangan gizi (Sumber: Yumiuri Shimbun 28.07.08).

 

Saya sangat terperangah untuk menemukan fakta-fakta ini. Sekarang mari kita lihat sekilas pada statistik Malaysia. Para ahli telah melaporkan bahwa Malaysia membuang 930 ton makanan setiap hari. Seberapa buruk 930 ton? Hal ini setara dengan 93.000 dari kantong beras 10 kg per hari, tepatnya!

 

Berita buruk lainnya, pemborosan makanan telah menjadi dua kali lipat selama tiga tahun terakhir. Malaysia dekat dengan status negara maju dalam jumlah sampah makanan yang dihasilkan, dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti India dan Bangladesh.

 

Kebiasaan membuang makanan jelas lebih merajalela di kalangan masyarakat perkotaan dan meskipun ada tren mengkhawatirkan soal obesitas dan penyakit kronis yang berhubungan dengan gaya hidup dan asupan makanan yang tidak terkontrol, orang-orang Malaysia tampaknya tidak cukup terganggu.

 

Sampah yang berlebihan dari makanan masih terlihat di mana-mana, rumah-rumah, restoran, hotel, resepsi pernikahan, acara-acara resmi dan segala macam pesta yang seseorang dapat pikirkan.

 

Ketika mendiskusikan makanan  sisa, kebanyakan orang tidak membuatnya menjadi suatu masalah karena kebiasaan ini tidak dianggap sebagai kejahatan.

 

Untuk membuat hal-hal ini lebih buruk, beberapa bahkan tidak berpikir ada sesuatu yang salah dengan membuang makanan segar dan makanan yang masih bisa dimakan karena itu telah menjadi norma.

 

Ketidaktahuan tentang dampak negatif dari membuang-buang makanan pada manusia dan lingkungan mungkin adalah penyebab utama. Apakah membuang-buang makanan begitu buruk? Orang mungkin bertanya. Jawabannya adalah ya pasti!

 

Pertama, membuang-buang makanan adalah masalah moralitas. 920 juta orang kelaparan di seluruh dunia dengan sepertiganya adalah dari  anak-anak. Mempertimbangkan jumlah besar makanan dengan mudah dibuang ke tempat sampah setiap hari oleh orang kaya sementara yang lain benar-benar kesusahan, membatasi jumlah makanan sisa harus menjadi prioritas.

 

Semakin banyak kita buang makanan, semakin banyak orang akan kelaparan dan kekurangan gizi, dan kelaparan global yang lebih buruk akan terjadi. Sedikit terlalu mengada-ada? Tidak sama sekali!

 

Kelaparan di dunia hari ini adalah krisis distribusi daripada produksi. Alokasi yang jelas tidak merata, karena ada permintaan yang lebih tinggi dari makanan di negara-negara kaya.

 

Makanan sedang diperlakukan sebagai komoditas bukan kebutuhan dasar, dan komersialisasi makanan telah membuat distribusinya menjadi hal yang menguntungkan. Secara sederhana, di mana ada lebih banyak keuntungan, lebih banyak makanan yang akan tersedia. Negara-negara dunia ketiga dan miskin dieksploitasi dalam paradoks paling kejam. Petani mereka secara fisik dieksploitasi dengan biaya termurah, dan tanah subur yang digunakan untuk menanam tanaman, buah-buahan dan sayuran yang kemudian diekspor ke negara-negara kaya pada harga yang mahal untuk memberi makan orang-orang yang kaya.

 

Sebagai imbalannya, uang itu sebagian besar didapatkan oleh pemilik perorangan dari perusahaan besar, sementara orang-orang pribumi dibiarkan kelaparan meskipun ada makanan berlimpah dan tanah yang subur di sekitarnya.

 

Membuah makanan hanya akan meningkatkan kebutuhan pangan (padahal sebenarnya jumlah yang dibutuhkan jauh lebih sedikit) oleh daerah kaya yang sama. Seperti kebiasaan menjadi lebih merajalela, lingkaran setan melanjutkan: lebih banyak makanan yang perlu diproduksi untuk memenuhi kebutuhan ‘palsu’ dari orang-orang yang membuangnya, dan akhirnya terjadi krisis pangan, di mana harga pangan akan melambung dan memperburuk negara yang sudah lemah menjadi negara yang lebih hina. Efek lain yang merugikan dari pemborosan makanan terjadi pada lingkungan.

 

Membuah secangkir kopi ke dalam tong sampah berarti membuang sekitar 140 liter air, itu adalah jumlah yang dibutuhkan untuk menumbuhkan, memproduksi, dan memproses biji kopi.

 

Membuang satu kilo daging sapi bekas berarti membuang 50.000 liter air yang dikonsumsi untuk menghasilkan daging itu. Ini belum termasuk tanaman yang digunakan untuk memberi makan sapi. Satu kilo beras dan kentang membutuhkan 2000 dan 500 liter air masing-masing untuk proses pertumbuhan tanaman.

 

Penguraian makanan dan bahan organik di tempat pembuangan sampah menghasilkan metana, yaitu 20 kali gas lebih berbahaya dari karbon dioksida dalam menciptakan efek rumah kaca.

 

Sebagai kesimpulan, pemborosan makanan memberikan kontribusi tidak hanya untuk  krisis makanan dan air tetapi juga meningkatkan pemanasan global.

 

Nabi Muhammad dan Sumber Daya

 

Sebuah aspek yang sering diabaikan dari ajaran Islam adalah penekanan pada kesederhanaan, penghematan dan menghindari pemborosan.

 

Nabi mengingatkan untuk hemat bila menggunakan air untuk wudhu 1400 tahun yang lalu, mungkin menjadi hal yang paling sederhana. Namun ini menjadi tanda yang paling penting bahwa kualitas menjadi hal yang penting dalam Islam.

 

Allah Yang Maha Kuasa berfirman dalam Al Quran:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Surat Al A’raaf ayat 31)

 

” Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Surat Al Israa ayat 26-27)

 

Dalam masalah pemborosan, Islam bahkan telah selangkah lebih maju ketika menyatakan bahwa jika waktu tidak dihabiskan untuk kegiatan yang berarti dan produktif juga dianggap sebagai bentuk pemborosan.

 

Allah berfirman:

“Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (surat Al Asr ayat 1-3)

 

Jika manusia dapat lebih bijaksana, banyak masalah akan diselesaikan secara otomatis tanpa perlu melakukan terlalu banyak usaha.

 

Pikirkan jumlah sumber daya alam yang dapat diselamatkan, jumlah orang lapar yang bisa makan, dan tingkat kerusakan lingkungan yang dapat diperbaiki atau dicegah jika pemborosan makanan terjadi sedikit.

 

Perintah ajaran Islam bahwa sebagai Khalifah Allah di bumi, manusia  harus mengelola dunia ini dengan cara yang terbaik untuk mendapatkan kebaikan dan melakukan keadilan untuk semua makhluk, bukan untuk memanjakan keserakahan manusia dan nafsu yang tak pernah puas.

 

Meskipun benar bahwa sebagian besar keadaan sulit dunia saat ini adalah murni buatan manusia, manusia juga memiliki kemampuan beragam dan kekuatan pikiran untuk menghadapi krisis terbesar dan menyelesaikan  bencana terburuk.

 

Ingat tulisan ini saat Anda ingin membuang makanan yang masih bisa dimakan: pemborosan saat ini adalah kekurangan untuk besok.

 

Sumber : http://muslimdaily.net/opini/specialfeature/fenomena-membuang-makanan-apakah-anda-sadar-bag-2.html#.UcAqWf72ZIL

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s